Perdebatan mengenai objektivitas FIFA dalam gelaran Piala Dunia 2026 kembali memanas setelah kemenangan dramatis Argentina atas Mesir dengan skor 3-2 di babak 16 besar. Kepemimpinan wasit asal Perancis, François Letexier, menuai kecaman setelah menganulir gol Mustafa Zico serta mengeluarkan serangkaian keputusan yang dinilai secara sepihak sangat menguntungkan kubu Argentina.
Isu mengenai independensi otoritas sepak bola dunia ini sebenarnya bukan pertama kali muncul selama turnamen akbar tersebut berlangsung di Amerika Utara. Sebelumnya, FIFA telah mendapatkan kritik tajam menyusul keputusan mereka menangguhkan sanksi larangan bertanding bagi penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, sehingga sang pemain bisa tampil melawan Belgia.
Kebijakan tersebut memicu tudingan adanya standar ganda serta intervensi politik yang masuk ke dalam mekanisme kedisiplinan organisasi internasional tersebut. Hal ini semakin diperparah oleh pernyataan terbuka Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengakui telah meminta Gianni Infantino selaku Presiden FIFA untuk meninjau ulang hukuman Balogun.
Kritik pedas pun datang dari berbagai kalangan mulai dari mantan wasit FIFA, federasi sepak bola nasional, hingga pengamat olahraga yang meragukan transparansi aturan. Fenomena ini menunjukkan bahwa di era modern, integritas organisasi jauh lebih dipertaruhkan dibandingkan sekadar hasil akhir pertandingan yang terjadi di atas lapangan hijau.
Ungkapan klasik bahwa bola itu bulat sering digunakan untuk menggambarkan ketidakpastian hasil pertandingan yang bisa berubah kapan saja mengikuti alur permainan. Aris Heru Utomo dalam bukunya yang berjudul Bola Bundar Bulat: Bisnis dan Politik dari Piala Dunia di Qatar menjelaskan bahwa filosofi ini mencerminkan dinamika yang tidak terduga.
Relevansi pepatah tersebut terlihat nyata saat laga Argentina melawan Mesir, di mana status kekalahan Argentina seolah sudah di depan mata hingga menit ke-79. Namun, kenyataan membuktikan bahwa hasil akhir sepak bola hanya ditentukan setelah wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya seluruh durasi waktu pertandingan.
Secara mengejutkan, Argentina berhasil mencetak tiga gol balasan dalam kurun waktu belasan menit terakhir, termasuk pada masa tambahan waktu yang mencapai sepuluh menit. Keberhasilan membalikkan keadaan menjadi 3-2 ini justru memicu gelombang protes dari penggemar yang menjuluki Argentina sebagai anak emas kesayangan FIFA.
Tudingan tersebut tidak bisa dianggap remeh karena secara langsung menyerang kredibilitas serta netralitas FIFA dalam menjalankan fungsinya sebagai penyelenggara turnamen global. Jika dilihat dari kacamata Hubungan Internasional, persoalan ini sudah melampaui teknis aturan permainan dan menyentuh aspek legitimasi serta kepercayaan publik terhadap institusi.
Dalam teori Hubungan Internasional, kekuatan sebuah organisasi global sangat bergantung pada tingkat kepercayaan para pemangku kepentingan terhadap setiap proses pengambilan keputusan yang dilakukan. Tanpa adanya transparansi dan independensi yang kuat, legitimasi FIFA sebagai otoritas tertinggi sepak bola akan terus dipertanyakan oleh masyarakat internasional.