PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) akhirnya membeberkan alasan di balik langkah akuisisi 100% saham PT Bali Media Telekomunikasi (BMT). Aksi korporasi ini dilakukan terhadap dua entitas afiliasi, yakni PT Infinity Investama (IFI) dan PT Prima Mas Abadi (PMA) pada akhir Juni 2026.
Dalam penjelasan resminya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen DSSA menyatakan bahwa investasi ini merupakan langkah strategis. Perusahaan ingin memanfaatkan posisi BMT yang memegang porsi saham signifikan di PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL).
Strategi di Balik Penguasaan Saham EXCL
BMT sendiri mulai tercatat sebagai salah satu pemegang saham pengendali di EXCL sejak April 2025. Hal ini terjadi setelah proses merger besar antara XL Axiata dan unit usaha Grup Sinarmas, PT Smartfren Telecom Tbk (FREN).
Hingga periode Juni 2026, tercatat BMT masih menguasai sekitar 24,59% saham di EXCL. Pembentukan XLSMART dinilai telah menciptakan kekuatan baru di sektor telekomunikasi dengan skala bisnis yang jauh lebih masif.
Manajemen DSSA optimistis bahwa entitas hasil merger tersebut memiliki posisi kompetitif dan fundamental yang sangat kokoh. Kondisi ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan nilai investasi perusahaan di masa depan.
Selain peningkatan nilai aset, DSSA juga membidik potensi pendapatan dari pembagian dividen secara berkala. Kontribusi finansial dari BMT diyakini akan memperkuat struktur keuangan perseroan secara berkelanjutan.
Detail Investasi dan Suntikan Modal DSSA
Proses akuisisi BMT dilakukan melalui dua anak perusahaan DSSA, yaitu PT DSST Mas Gemilang dan PT Sinarmas Sukses Sejahtera. Pada tahap awal, nilai investasi yang dikucurkan mencapai angka Rp4 triliun.
Tak berhenti di situ, DSSA kembali memperkuat posisi keuangannya melalui suntikan modal tambahan pada 6 Juli 2026. Melalui DSST, perusahaan mengambil bagian saham baru senilai Rp8,54 triliun.
Rincian langkah strategis yang diambil DSSA melalui investasi besar ini antara lain:
- Meningkatkan kapabilitas operasional dan penguasaan teknologi di sektor digital.
- Mempercepat proses integrasi ekosistem digital untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.
- Memperkuat struktur permodalan anak usaha agar lebih kompetitif di pasar.
- Mengkonsolidasikan laporan keuangan BMT ke dalam kinerja grup DSSA secara menyeluruh.
Langkah masif ini merupakan bagian dari visi besar DSSA dalam memperluas jangkauan bisnisnya. Perusahaan berkomitmen untuk terus melakukan transformasi menuju ekosistem teknologi yang lebih terintegrasi.
Profil Bisnis dan Kinerja Keuangan DSSA
Sebagai perusahaan holding dari Grup Sinarmas, DSSA memiliki portofolio bisnis yang sangat beragam. Lini usahanya mencakup penyediaan internet, pusat data (data center), hingga sektor energi dan pertambangan.
Berikut adalah beberapa unit bisnis utama yang berada di bawah naungan DSSA:
| Sektor Bisnis | Nama Entitas / Perusahaan |
|---|---|
| Jaringan Internet | PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) |
| Pusat Data (Data Center) | SMPlus |
| Pertambangan Batu Bara | PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) |
| Energi Terbarukan | Unit Tenaga Panas Bumi |
Tabel di atas menunjukkan diversifikasi usaha DSSA yang tidak hanya terpaku pada satu industri saja. Keragaman ini membantu perusahaan menjaga stabilitas pendapatan di tengah fluktuasi pasar.
Melihat performa keuangan terbaru, DSSA mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 2,2% pada kuartal I 2026. Keuntungan tersebut mencapai US$82,26 juta meskipun total pendapatan sempat terkoreksi menjadi US$693,24 juta.
Sektor pertambangan batu bara melalui GEMS masih menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi pendapatan mencapai 86,72%. Sementara itu, lini bisnis teknologi, internet, dan TV kabel menyumbang sekitar 9,98% bagi perusahaan.