Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) untuk tahun ajaran baru dijadwalkan akan segera dimulai secara serentak pada Senin, 13 Juli 2026. Momen ini menjadi langkah awal yang krusial bagi siswa baru di seluruh tingkatan pendidikan untuk beradaptasi dengan lingkungan belajar mereka.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menekankan bahwa peran orang tua sangat vital dalam mempersiapkan mental dan karakter anak. Sebagai madrasah pertama bagi buah hati, pola asuh di rumah menjadi fondasi utama sebelum anak memasuki jenjang sekolah formal.
Melalui Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, pemerintah membagikan panduan bagi orang tua untuk memperkuat karakter anak. Berikut adalah lima strategi efektif untuk menyiapkan si kecil menghadapi masa MPLS 2026.
1. Menerapkan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
Kemendikdasmen memiliki program khusus bertajuk 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH) yang dirancang untuk membentuk pribadi pelajar yang unggul. Orang tua dapat mengimplementasikan gerakan ini melalui pendekatan yang penuh kasih dan terstruktur di rumah.
Langkah sistematis dalam mewujudkan karakter positif anak menurut panduan resmi :
- Dicontohkan: Menjadi teladan nyata bagi anak dalam berperilaku sehari-hari.
- Dibicarakan: Mengajak anak berdiskusi hangat mengenai alasan pentingnya memiliki kebiasaan baik.
- Dipahamkan: Menjelaskan manfaat setiap aktivitas positif dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti.
- Diulang: Melakukan praktik kebiasaan baik secara konsisten setiap harinya.
- Dikuatkan: Memberikan apresiasi berupa pujian tulus atas usaha dan pencapaian anak.
- Didisplinkan: Menyusun jadwal harian yang teratur untuk melatih tanggung jawab.
- Dihidupkan: Menciptakan suasana lingkungan rumah yang mendukung pertumbuhan karakter anak.
Melalui langkah-langkah di atas, anak akan lebih terbiasa mengikuti aturan dan norma yang nantinya juga akan mereka temui saat masa MPLS di sekolah.
2. Membangun Karakter Lewat Pola Makan Bergizi
Kebiasaan makan bukan sekadar pemenuhan nutrisi, melainkan juga sarana pembentukan kedisiplinan dan sopan santun. Orang tua disarankan untuk selalu mendampingi anak saat waktu makan tiba guna menjalin kedekatan emosional.
Sembari makan, Ayah dan Ibu bisa memperkenalkan kandungan gizi dalam menu serta mengajarkan tata krama di meja makan. Kerja sama dengan sekolah dalam memantau tumbuh kembang anak juga sangat dianjurkan melalui Buku Panduan Penerapan Tujuh KAIH.
3. Menanamkan Prinsip Keadilan dan Kesetaraan
Penting bagi orang tua untuk menjadi sosok teladan yang tidak membeda-bedakan peran berdasarkan gender di lingkungan keluarga. Setiap anak, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki hak yang sama untuk belajar, memimpin, dan meraih impian mereka.
Cara memberikan pemahaman mengenai kesetaraan dan nilai Pancasila kepada buah hati :
- Memberikan peluang dan dukungan yang setara bagi setiap anak untuk mencoba hal baru.
- Menghindari pemberian label negatif, seperti melarang anak laki-laki menangis atau meragukan kepemimpinan anak perempuan.
- Mengajarkan sikap saling menghormati dan tidak diskriminatif terhadap sesama teman.
- Memberikan kebebasan bagi anak untuk memilih minatnya dengan tetap di bawah pengawasan orang tua.
Dengan menanamkan nilai-nilai ini, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang inklusif dan siap bersosialisasi dengan beragam teman di sekolah baru.
4. Memperkuat Literasi Digital Sejak Dini
Di era teknologi yang semakin pesat, membekali anak dengan pemahaman literasi digital adalah hal wajib sebelum mereka berinteraksi lebih luas. Komunikasi yang terbuka dan penuh empati menjadi kunci agar anak merasa nyaman berbagi pengalaman digital mereka.
Orang tua perlu memahami platform apa saja yang sering diakses anak serta menggunakan fitur pengawasan atau Parental Control pada perangkat gawai. Membuat kesepakatan bersama mengenai durasi penggunaan gadget juga efektif untuk mencegah ketergantungan.
5. Mendampingi Anak Disabilitas dengan Kasih Sayang
Bagi orang tua yang memiliki anak disabilitas, pendampingan yang penuh perhatian dan cinta menjadi kunci utama kesiapan mereka menghadapi sekolah. Setiap anak memiliki keunikan tersendiri yang harus didukung agar mereka dapat berkembang secara maksimal.
Bentuk dukungan yang dapat diberikan kepada anak berkebutuhan khusus agar siap sekolah :
- Menanamkan nilai-nilai kebaikan dan moral secara berkelanjutan.
- Melatih kemandirian anak dalam melakukan aktivitas dasar sehari-hari.
- Melibatkan anak dalam berbagai kegiatan sosial untuk melatih kepercayaan diri.
- Memberikan sokongan psikologis dan emosional yang kuat agar mereka merasa aman.
Pemberian dukungan yang tepat akan membuat anak merasa berharga dan lebih percaya diri saat bertemu dengan guru maupun teman-teman baru di sekolah.
Persiapan yang matang dari rumah akan memudahkan transisi anak saat memasuki lingkungan sekolah yang baru. Dengan lima cara dari Kemendikdasmen ini, diharapkan MPLS 2026 dapat berjalan lancar bagi seluruh siswa di Indonesia.