Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat tren yang cukup kontras di pasar modal sepanjang semester pertama tahun ini. Aktivitas penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) terpantau jauh lebih tenang jika dibandingkan periode tahun-tahun sebelumnya.
Meskipun minat perusahaan untuk melantai di bursa saham cenderung menurun, para pelaku usaha justru beralih mencari pendanaan melalui instrumen lain. Banyak perusahaan kini lebih memilih menerbitkan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) guna menyerap modal dari investor.
Dominasi Surat Utang di Pasar Modal
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, mengungkapkan bahwa minat korporasi terhadap surat utang saat ini sangat tinggi. Hingga 9 Juli 2026, tercatat sudah ada 71 emisi EBUS yang diterbitkan oleh 43 perusahaan berbeda.
Nilai penghimpunan dana dari sektor surat utang ini bahkan telah menembus angka Rp76,1 triliun. Angka tersebut berbanding terbalik dengan perolehan dana dari sektor saham yang realisasinya masih relatif minim.
Berikut adalah perbandingan data penghimpunan dana melalui pasar modal hingga Juli 2026:
| Instrumen Pendanaan | Jumlah Perusahaan / Emisi | Total Dana Terhimpun |
|---|---|---|
| Efek Bersifat Utang & Sukuk (EBUS) | 71 Emisi (43 Perusahaan) | Rp76,1 Triliun |
| Initial Public Offering (IPO) Saham | 5 Perusahaan | Rp1,67 Triliun |
Data di atas menunjukkan bahwa instrumen surat utang menjadi pilihan utama perusahaan dalam mencari likuiditas besar tahun ini. Sementara itu, lima perusahaan yang telah resmi melantai di bursa belum termasuk emisi dari PT Rans Entertainment Tbk (RANS) dan PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL).
Prioritas Kualitas Ketimbang Kuantitas
Menanggapi sepinya aktivitas IPO, Saidu Solihin menegaskan bahwa jumlah transaksi bukan satu-satunya indikator keberhasilan otoritas bursa. BEI kini lebih selektif dan memberikan perhatian ekstra pada aspek kualitas perusahaan yang akan mencatatkan sahamnya.
Ia menekankan pentingnya kesehatan fundamental, tata kelola perusahaan yang baik, serta kesiapan mental untuk menjadi perusahaan terbuka. Upaya ini dilakukan untuk memastikan perlindungan bagi investor publik di masa depan.
BEI mengidentifikasi beberapa sektor yang saat ini mendominasi antrean calon emiten di pipeline:
- Sektor Kesehatan (Healthcare): Menjadi sektor yang paling menonjol dalam daftar calon emiten baru.
- Konsumer Siklikal & Non-Siklikal: Menunjukkan minat yang stabil untuk melakukan ekspansi melalui pasar modal.
- Bahan Baku (Basic Materials): Masuk dalam kategori sektor yang aktif mempersiapkan diri untuk melantai.
Saat ini, masih terdapat enam perusahaan yang berada dalam proses antrean (pipeline) untuk melakukan IPO. Target dana yang diincar dari aksi korporasi keenam calon emiten tersebut diperkirakan mencapai Rp2,47 triliun.
Saidu menambahkan bahwa sebagian besar calon emiten tersebut memiliki skala aset kategori besar. Sejalan dengan hal tersebut, BEI berkomitmen terus memperkuat regulasi demi menciptakan ekosistem pasar modal yang lebih sehat dan terpercaya bagi masyarakat.