Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, memberikan penekanan serius mengenai pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi seluruh siswa.
Ia menegaskan bahwa segala bentuk kekerasan dapat berdampak buruk bagi masa depan anak, bahkan bagi mereka yang memiliki prestasi akademik gemilang sekalipun.
Pernyataan tersebut disampaikan Pratikno saat meresmikan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA) dalam rangka menyambut MPLS Ramah 2026 di Malang, Jawa Timur.
Dalam sambutannya, ia menganalogikan pendidikan tanpa kesehatan mental seperti sebuah perkalian angka dengan nol yang hasilnya akan selalu tetap nol.
Menurutnya, tidak ada gunanya mendidik anak hingga menjadi sangat pintar jika kondisi fisik, mental, sosial, dan spiritual mereka dalam keadaan yang tidak sehat.
Pratikno menjelaskan bahwa anak-anak yang pernah mengalami tindak kekerasan sangat rentan mengalami trauma mendalam, rasa cemas yang berlebih, hingga emosi yang tidak stabil.
Dampak psikologis ini bisa memicu perilaku agresif atau sebaliknya, membuat anak menjadi sangat tertutup dan menarik diri dari pergaulan sosial di lingkungannya.
Kondisi ini tentu sangat berbahaya karena bisa menghambat proses belajar anak di sekolah serta melunturkan rasa percaya diri dan harga diri mereka.
Ia juga mengingatkan para orang tua dan tenaga pendidik bahwa tingginya pengetahuan tidak akan menjamin masa depan jika kesehatan mental anak terabaikan.
Masalah gangguan kejiwaan kini telah menjadi isu global yang semakin serius, termasuk tantangan besar yang sedang dihadapi oleh Indonesia saat ini.
Data terbaru dari Kementerian Kesehatan melalui program Cek Kesehatan Gratis periode 2025-2026 menunjukkan angka yang cukup memprihatinkan bagi generasi muda.
Sekitar 10 persen anak di Indonesia terindikasi mengalami gangguan kesehatan jiwa dari total sekitar 7 juta anak yang telah mengikuti proses skrining kesehatan.
Rinciannya, terdapat sekitar 338 ribu anak yang mengalami gejala kecemasan, sementara 363 ribu anak lainnya menunjukkan tanda-tanda depresi yang serius.
Guna menekan angka tersebut, pemerintah melalui Gernas RANA berupaya menjamin keamanan anak di empat lingkungan utama sebagai berikut:
Daftar empat ruang krusial yang wajib aman dan nyaman bagi anak:
- Lingkungan Keluarga: Merupakan fondasi awal di mana setiap anak harus mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang tulus.
- Satuan Pendidikan: Meliputi sekolah, madrasah, hingga pesantren yang harus bebas dari segala bentuk intimidasi dan kekerasan.
- Ruang Publik: Memastikan area bermain dan akses perjalanan sekolah menjadi tempat yang ramah dan terlindungi untuk anak.
- Ruang Digital: Memberikan perlindungan bagi anak-anak saat berselancar di dunia maya agar tetap aman dari konten negatif.
Program ini diharapkan dapat menyatukan visi seluruh pihak dalam menjaga tumbuh kembang anak agar tidak hanya cerdas secara kognitif, namun juga sehat secara mental.
Melalui langkah kolaboratif ini, pemerintah optimis dapat melahirkan generasi hebat yang siap menghadapi tantangan zaman tanpa beban trauma masa lalu.
Tabel berikut merangkum data kesehatan jiwa anak di Indonesia berdasarkan hasil skrining kesehatan nasional terbaru.
| Kategori Masalah | Jumlah Anak | Persentase |
|---|---|---|
| Gejala Kecemasan (Anxiety) | 338.000 Anak | 4,4% |
| Gejala Depresi (Depression) | 363.000 Anak | 4,8% |
| Total Indikasi Masalah Jiwa | ~700.000 Anak | ~10% |
Data di atas menunjukkan betapa pentingnya peran ruang aman dalam menjaga stabilitas emosional anak agar mereka terhindar dari gangguan kecemasan dan depresi yang menghambat pertumbuhan.