Timnas Argentina kini memikul beban sebagai satu-satunya harapan Amerika Selatan saat bersiap menghadapi Swiss pada babak perempat final Piala Dunia 2026 yang dijadwalkan berlangsung Minggu (12/7/2026) pagi. Skuad besutan Lionel Scaloni menjadi wakil terakhir dari zona tersebut setelah Brasil, Kolombia, dan Paraguay dipastikan angkat koper pada fase 16 besar sebelumnya.
Kemenangan atas Swiss akan membawa Albiceleste selangkah lebih dekat untuk mengukir sejarah sebagai tim pertama yang mempertahankan gelar juara dunia sejak prestasi Brasil pada 1962 silam. Argentina saat ini hanya memerlukan tiga kemenangan beruntun guna mengamankan trofi paling bergengsi di dunia tersebut secara berturut-turut.
Perjuangan Dramatis Menuju Delapan Besar
Langkah Argentina untuk mencapai fase delapan besar ini tidaklah mulus karena mereka harus melewati serangkaian pertandingan yang sangat menguras emosi dan tenaga. Sejak babak 32 besar, Messi dan kawan-kawan harus bersusah payah menundukkan Cabo Verde dengan skor tipis 3-2 melalui babak perpanjangan waktu yang menegangkan.
Drama serupa kembali terulang di babak 16 besar ketika Argentina sempat tertinggal dua gol terlebih dahulu dari tim nasional Mesir di Atlanta. Beruntung, aksi gemilang Cristian Romero, Lionel Messi, dan Enzo Fernandez dalam 11 menit terakhir waktu normal berhasil membalikkan keadaan menjadi kemenangan 3-2.
Mentalitas Pantang Menyerah Lionel Scaloni
Pelatih Lionel Scaloni menegaskan bahwa dua kemenangan sulit tersebut merupakan bukti nyata bahwa anak asuhnya memiliki karakter kuat dan semangat juang yang tinggi. Scaloni berharap tim nasionalnya akan selalu diingat sebagai kelompok pemain yang tidak pernah mengenal kata menyerah dalam situasi sesulit apa pun di lapangan.
Ia mengibaratkan mentalitas para pemainnya seperti gairah anak kecil yang bermain sepak bola di jalanan tanpa rasa takut atau kecewa saat kehilangan bola. Bagi Scaloni, filosofi bermain untuk Argentina adalah tentang mempertahankan determinasi tinggi layaknya semangat masa kecil yang murni dan kompetitif.
Kondisi Fisik Lionel Messi di Usia 39 Tahun
Menanggapi keraguan publik mengenai penurunan performa Lionel Messi, Scaloni menegaskan bahwa sang kapten tetap menjadi sosok krusial meskipun sudah menginjak usia 39 tahun. Scaloni menilai kontribusi fisik Messi tidak mengalami penurunan signifikan karena persiapan matang yang dijalani bersama pelatih kebugaran pribadinya menjelang turnamen ini.
Statistik menunjukkan bahwa intensitas lari dan pergerakan Messi masih konsisten sehingga ia tetap mampu memberikan segalanya bagi kepentingan tim di ajang yang diprediksi menjadi Piala Dunia terakhirnya ini. Sang pelatih yakin kehadiran Messi di lapangan tetap memberikan pengaruh besar, baik secara teknis maupun mental bagi seluruh anggota skuad.
Persiapan Taktis Melawan Swiss
Menjelang laga kontra Swiss, Scaloni memberikan indikasi kuat bahwa dirinya tidak akan melakukan banyak perombakan pada komposisi sebelas pemain pertama yang ia turunkan. Ia merasa sangat puas dengan performa luar biasa yang ditunjukkan anak asuhnya saat melakoni laga sengit melawan Mesir pada pertandingan sebelumnya.
Opsi untuk menduetkan Lautaro Martinez dan Julian Alvarez di barisan depan masih menjadi pertimbangan utama guna mendobrak pertahanan lawan yang dikenal cukup solid. Tantangan Argentina kali ini tidaklah mudah mengingat Swiss melaju ke perempat final dengan rekor impresif sebagai tim yang belum terkalahkan sepanjang turnamen.