Raja Ritel Indonesia Resmi Tumbang Kini Diambil Alih Keluarga Riady Terbaru 2026

Raja Ritel Indonesia Resmi Tumbang Kini Diambil Alih Keluarga Riady Terbaru 2026

Matahari Department Store kini dikenal sebagai raksasa ritel yang mendominasi pasar Indonesia dengan total 155 gerai di 81 kota. Namun, di balik kemegahan tersebut, terdapat sejarah panjang yang dimulai dari sebuah toko kecil di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, pada tahun 1960.

Adalah Hari Darmawan, sosok di balik berdirinya toko pakaian bernama Micky Mouse yang menjadi cikal bakal Matahari. Pada masa awal berdirinya, toko ini fokus menjual pakaian impor serta koleksi dari label MM Fashion yang diproduksi secara mandiri oleh istri Hari.

Bisnis Micky Mouse sebenarnya tergolong sukses dan stabil selama lima tahun pertama beroperasi karena memiliki basis pelanggan yang setia. Meski demikian, Hari Darmawan merasa tertantang saat melihat toko pesaing di sebelahnya yang bernama De Zion selalu ramai dikunjungi pelanggan dari kalangan kelas atas.

Hari sempat mencoba berbagai cara untuk meniru kesuksesan De Zion, namun upayanya tersebut tidak kunjung membuahkan hasil yang signifikan. Peluang besar akhirnya datang pada tahun 1968 ketika ia mendengar kabar bahwa pemilik De Zion berniat menjual toko tersebut.

Transformasi Menjadi Matahari

Tanpa membuang waktu, Hari segera mengambil langkah berani untuk mengambil alih toko pesaingnya itu demi mewujudkan ambisi bisnis yang lebih besar. Keputusan ini menjadi titik balik penting dalam sejarah ritel di Indonesia karena mengubah arah bisnis yang awalnya kecil menjadi skala nasional.

Proses akuisisi dan perubahan nama toko tersebut melibatkan rincian sebagai berikut:

  • Sumber Pendanaan: Hari memperoleh pinjaman sebesar US$ 200 juta dari Citibank untuk membiayai langkah ekspansinya.
  • Lokasi Ekspansi: Modal tersebut digunakan untuk mengakuisisi dua gerai De Zion sekaligus, yakni di Jakarta dan Bogor.
  • Asal Nama: Nama "Matahari" dipilih sebagai terjemahan langsung dari bahasa Belanda "De Zion" yang memiliki arti serupa.
  • Inspirasi Strategi: Hari mengadopsi model bisnis Sogo Department Store dari Jepang untuk menyediakan koleksi pakaian yang sangat lengkap.
  • Target Pasar: Strategi utamanya adalah menawarkan barang berkualitas terbaik namun dengan harga yang tetap terjangkau bagi konsumen.

Implementasi strategi ala ritel Jepang tersebut terbukti sangat efektif dalam menarik minat masyarakat luas untuk datang berbelanja. Keberhasilan ini membawa Matahari memasuki masa keemasan sepanjang dekade 1970-an hingga 1980-an dengan pertumbuhan yang sangat masif.

Lini produk yang ditawarkan pun semakin beragam, tidak lagi terbatas pada pakaian semata melainkan merambah ke produk gaya hidup lainnya. Konsumen mulai bisa menemukan berbagai kebutuhan seperti perhiasan, sepatu, tas, kosmetik, hingga peralatan rumah tangga dan mainan anak di dalam satu atap.

Ekspansi Nasional dan Langkah Melantai di Bursa

Memasuki tahun 1990-an, dominasi Matahari di industri ritel tanah air semakin tidak terbendung dengan pembukaan gerai di berbagai wilayah luar kota. Nama Matahari menjadi sangat ikonik dan hampir tidak ada masyarakat Indonesia yang tidak mengenal merek departemen stor ini.

Puncak dari rasa percaya diri perusahaan ditunjukkan saat PT Matahari Department Store Tbk memutuskan untuk melakukan penawaran umum perdana. Pada tahun 1989, perusahaan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia dengan kode emiten LPPF sebagai tanda profesionalisme bisnis mereka.

Ambisi Hari Darmawan nyatanya melampaui status "Raja Ritel" yang sudah ia sandang saat itu karena ia memimpikan hal yang lebih besar. Ia mencanangkan visi besar untuk membangun hingga 1.000 gerai Matahari guna menguasai seluruh pelosok negeri tanpa terkecuali.

Rencana ambisius ini kemudian menarik perhatian James Riady, seorang bankir muda yang juga putra dari pendiri Lippo Group, Mochtar Riady. James kemudian menawarkan bantuan finansial berupa pinjaman dana segar senilai Rp 1,6 triliun untuk mendukung visi besar tersebut.

Persaingan Tak Terduga dan Pengalihan Kepemilikan

Hari Darmawan menyetujui tawaran tersebut karena tertarik dengan skema bunga rendah yang ditawarkan oleh pihak keluarga Riady. Namun, keputusan ini justru menjadi awal dari perubahan peta kepemilikan Matahari yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

Tidak lama setelah kucuran dana tersebut cair, James Riady ternyata memutuskan untuk ikut terjun langsung ke dalam bisnis ritel. Ia membawa waralaba ritel raksasa asal Amerika Serikat, WalMart, untuk beroperasi di Indonesia sebagai kompetitor langsung Matahari.

Persaingan antara kedua raksasa ritel tersebut memiliki pola yang cukup unik:

  • Strategi Lokasi: Gerai WalMart selalu dibangun persis berdekatan atau di depan toko Matahari yang sudah ada sebelumnya.
  • Pola Kompetisi: Fenomena ini sering dibanding-bandingkan dengan persaingan antara Indomaret dan Alfamart di masa sekarang.
  • Dinamika Pasar: Meskipun menghadapi tekanan dari WalMart, operasional Matahari tetap berjalan stabil dan mampu mempertahankan pasarnya.
  • Hasil Akhir: Pada akhirnya, WalMart justru kalah bersaing di pasar lokal, sementara Matahari tetap berdiri kokoh sebagai pemimpin pasar.

Kemenangan Matahari atas WalMart dalam persaingan bisnis ternyata tidak membuat Hari Darmawan bisa terus mempertahankan kendali atas perusahaannya. Pada tahun 1996, di tengah performa bisnis yang sedang berada di puncaknya, sebuah pengumuman mengejutkan muncul ke publik.

James Riady mengajukan tawaran untuk membeli secara penuh kepemilikan Matahari dari tangan Hari Darmawan secara tiba-tiba. Transaksi ini akhirnya terlaksana, dan perusahaan yang saat itu mencatatkan omzet fantastis sebesar Rp 2 triliun resmi berpindah tangan ke bawah payung Lippo Group.

Perpindahan kepemilikan ini memicu berbagai spekulasi di tengah masyarakat karena dilakukan saat kondisi keuangan Matahari sedang sangat sehat. Sejak saat itu, era kepemimpinan Hari Darmawan berakhir, dan sosok sang pendiri pun perlahan mulai menarik diri dari panggung industri ritel nasional.

Artikel terkait