Pemerintah terus berkomitmen meningkatkan kesejahteraan pendidik melalui berbagai skema tunjangan meski pemerataan penghasilan guru di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Salah satu guru yang merasakan dampak positif kebijakan ini adalah Hairudin Buano, seorang pengajar mata pelajaran Geografi di Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku.
Hairudin menerima dua jenis bantuan sekaligus, yakni Tunjangan Profesi Guru (TPG) serta Tunjangan Khusus Guru (TKG). Ia mengaku sangat terbantu dengan perubahan skema penyaluran tunjangan pada tahun 2026 yang kini cair setiap bulan, tidak lagi per tiga bulan seperti periode sebelumnya.
Penyaluran bulanan tersebut dinilai memberikan kepastian pendapatan yang lebih konsisten bagi para tenaga pendidik. Menurut Hairudin, kebijakan baru ini sangat membantu menjaga kelancaran arus kas kebutuhan rumah tangga guru setiap bulannya.
Bentuk Pengakuan bagi Guru di Wilayah 3T
Bagi Hairudin, pemberian tunjangan bukan sekadar bantuan finansial semata. Ia memandangnya sebagai wujud nyata perhatian dan pengakuan negara terhadap dedikasi para guru yang bertugas di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
Kondisi geografis, sosial, dan demografis di wilayah pelosok memberikan tantangan hidup yang cukup berat bagi setiap pengajar. Tunjangan ini menjadi penopang kesejahteraan bagi mereka yang tetap mengabdi di tengah keterbatasan fasilitas dan akses di daerah terpencil.
Berikut adalah ringkasan perjalanan karier Hairudin Buano sebagai tenaga pendidik:
- Memulai karier sebagai guru honorer pada tahun 2018 di SMA Negeri 10, Kecamatan Gorom Timur.
- Pindah tugas mengajar ke SMA Swasta Nafiri Ukar di Kecamatan Ukar Sengan pada tahun 2024.
- Berhasil lolos seleksi PPPK paruh waktu pada tahun 2026 dan ditempatkan di SMA Negeri 9, Kecamatan Kian Darat.
- Menerima Tunjangan Khusus Guru (TKG) pertama kali pada 2023 dan Tunjangan Profesi Guru (TPG) pada 2025.
Lulusan Pendidikan Geografi dari Universitas Pattimura ini kini merasa lebih tenang setelah status kepegawaiannya meningkat. Meskipun berstatus PPPK paruh waktu, kepastian pendapatan tambahan sangat menolong ekonominya di Seram Bagian Timur.
Perjuangan Melintasi Sungai dan Laut Demi Mengajar
Pengalaman paling berat dirasakan Hairudin saat bertugas di SMA Swasta Nafiri Ukar yang memiliki fasilitas belajar sangat minim. Ia harus menempuh perjalanan ekstrem dari rumahnya di Desa Urung menuju sekolah yang berada di Desa Guli-Guli.
Setiap hari, ia wajib menyusuri bibir pantai dan menyeberangi tiga aliran sungai untuk sampai di ruang kelas. Jika air laut sedang pasang, Hairudin terpaksa melepas seragam dinasnya dan menyimpannya di dalam tas agar tidak basah kuyup saat menyeberang.
Kondisi akan jauh lebih berbahaya ketika musim hujan tiba karena arus sungai menjadi sangat deras dan mematikan. Ia harus mencari jembatan kayu yang jauh atau mencari titik sungai yang lebih dangkal agar tidak terseret arus menuju Laut Banda.
Tabel berikut merangkum rincian tunjangan dan status kepegawaian Hairudin Buano:
| Kategori Informasi | Keterangan Detail |
|---|---|
| Status Kepegawaian Terbaru | PPPK Paruh Waktu (Mulai 2026) |
| Jenis Tunjangan Diterima | TPG (sejak 2025) dan TKG (sejak 2023) |
| Frekuensi Penyaluran 2026 | Setiap Bulan |
| Wilayah Penugasan | Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku |
Data di atas menunjukkan bagaimana skema bantuan pemerintah mulai menjangkau guru di daerah pelosok secara rutin. Perubahan jadwal pencairan tunjangan menjadi bulanan menjadi angin segar bagi stabilitas ekonomi para guru di wilayah 3T.