Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan pekan ini dengan tren negatif di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data terbaru hingga Senin siang, mata uang Garuda terpantau mengalami koreksi yang cukup signifikan.
Merujuk pada data Bloomberg pukul 11.30 WIB, rupiah bertengger di posisi Rp18.142 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 77 poin atau setara 0,43 persen dibandingkan penutupan pekan sebelumnya yang berada di level Rp18.065 per dolar AS.
Kondisi ini memperburuk catatan performa rupiah sepanjang tahun berjalan. Hingga saat ini, total depresiasi rupiah tercatat sudah menembus angka 8,75 persen sejak awal tahun.
Analisis MUFG Terhadap Kekuatan Dolar AS
Pelemahan rupiah terjadi di tengah sorotan tajam investor global terhadap kebijakan moneter Bank Sentral AS atau The Fed. Ekspektasi pasar mengenai suku bunga tinggi yang bertahan lama menjadi faktor utama yang memperkuat posisi greenback.
Namun, analis senior mata uang dari MUFG, Michael Wan, memberikan sudut pandang yang berbeda. Wan menilai pelaku pasar saat ini bersikap terlalu agresif dalam memprediksi kebijakan suku bunga AS yang ketat (hawkish).
Poin penting dari riset MUFG mengenai potensi pergerakan pasar ke depan:
- Pasar dinilai terlalu optimis terhadap bertahannya suku bunga tinggi dalam jangka panjang.
- Terdapat potensi penurunan bertahap pada imbal hasil obligasi pemerintah AS.
- Nilai tukar dolar AS berisiko melunak jika ekspektasi pasar mulai bergeser.
- Permintaan chip dan teknologi kecerdasan buatan (AI) tetap menjadi perhatian utama investor.
Wan menjelaskan bahwa pergeseran sentimen ini dapat membuka ruang bagi pelemahan dolar secara perlahan. Kondisi tersebut dinilai bisa terjadi jika data ekonomi AS memberikan indikasi baru bagi kebijakan The Fed.
Proyeksi Pemangkasan Suku Bunga
Data terbaru dari pemerintah AS, khususnya mengenai produktivitas dan lapangan kerja, diprediksi akan menjadi penentu. Laporan dari Productivity and Jobs Taskforce bisa memberikan alasan bagi The Fed untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan.
Meskipun demikian, peluang pemangkasan suku bunga tersebut diperkirakan baru akan terealisasi pada tahun 2027. Jika proyeksi pasar berubah, maka tekanan terhadap mata uang negara berkembang berpotensi mereda.
Berikut adalah perbandingan performa beberapa mata uang di kawasan Asia Pasifik:
| Mata Uang | Persentase Pelemahan | Keterangan |
|---|---|---|
| Won Korea | 0,56% | Pelemahan terdalam di Asia |
| Rupee India | 0,45% | Koreksi signifikan |
| Rupiah Indonesia | 0,43% | Berada di level Rp18.142/US$ |
Data di atas memperlihatkan bahwa pelemahan mata uang tidak hanya dialami oleh rupiah. Sebagian besar mata uang di kawasan Asia Pasifik memang sedang tertekan oleh keperkasaan dolar AS pada periode ini.
Won Korea menjadi mata uang yang mencatatkan penurunan paling tajam di kawasan regional. Sementara itu, rupee India juga menyusul di posisi kedua sebelum rupiah Indonesia melengkapi daftar tersebut.